UNEG-UNEG SEMESTER 3 FAKULTAS KEDOKTERAN
Bismillahirrahmanirrahim...
Setelah
berhibernasi selama hampir satu semester, akhirnya kepikiran juga mau
mengangkat topik tentang apa di blog ini. Jujur, susah bikin konten blog yang
objektif dan bisa dirasakan oleh semua kalangan, hehe. Tapi apalah tujuan bikin
blog kalo bukan buat curhat, kan?
Nggak kerasa
udah semester 3. Dan semakin banyak pengalaman yang tak dapetin. Mulai dari
masalah nilai, sosial, sampe romansa-romansa cinta yang mulai tumbu di antara
kami -_-
Pertama adalah masalah nilai. Ternyata,
setelah masuk semester 3, dapet nilai 7 di ujian blok itu susah banget. Karena
semester 3 ini mulai masuk ke blok klinis, trus harus hafal dan paham definisi
sampai pencegahan suatu penyakit. Boro-boro mau keluar buat jalan atau nonton,
mau boker aja mikir-mikir dulu wkwk. Nggak ada kohesinya ya?
Ada yang nilai
ujian blok bagus, tapi anjlok di nilai responsi. Trus nilai akhirnya jadi
jelek. Banyak kejadian kayak gitu. Nah, hikmahnya adalah sebagai mahasiswa
kedokteran itu memang harus melaksanakan slogan “belajar sepanjang hayat”,
bukan belajar kalo mau ujian aja. Mahasiswa kedokteran emang diwajibkan buat
belajar sepanjang hayat karena ilmu kedokteran itu semakin hari semakin
berkembang. Dan sebagai seorang dokter nggak boleh statis pada satu ilmu aja
karena ilmu satu dengan yang lainnya itu pasti punya korelasi. Poinnya adalah
jangan lelah untuk terus belajar ya teman-teman :))
Kedua adalah masalah bersosial. Semester
3 ini udah mulai kelihatan gimana topeng-topeng yang digunakan. Ada yang dulu
waktu awal-awal kalo di grup suka ngoceh, eh taunya pas udah kuliah diem diem
bae. Ada yang diem diem tapi bribikane (gebetannya) banyak. Ada yang baiknya
nggak ketulungan sampe bikin baper. Ada yang apatis, mau enak sendiri. Cuma
nongol kalo ada orang lain, biar kelihatan kerja. Emang temenku tuh
macem-macem.
Tapi aku banyak
belajar sama temen-temen ku. Ungkapan “don’t judge the book by its cover” itu
emang bener adanya. Aku punya temen, cerewet abis, tapi ternyata dia nggak
pernah bolos sholat dhuha. Ku kira dengan kecerewetannya itu, dia ya kayak
manusia pada umumnya yang cuma ngomong doang. Ternyata salah, dibalik
kecerewetannya itu, dia banyak aksinya. Trus ada juga nih manusia setengah
ghaib. Misal ada tugas nih, trus bikin grup kan. Di grup dia tuh
meng-ayo-ayo-kan, seolah-olah dia sendiri yang kerja, padahal mah nggak ada
kontribusinya sama sekali.
Temen-temen yang
mau masuk FK atau yang sedang preklinik yang dirahmati Allah insyaAllah, jangan
sekali-kali menggantungkan kehidupan kita pada manusia. Mau dia sepinter
apapun, sebaik apapun, tetep Allah yang pegang kendali. Dan inget terus sama
tanggung jawab kalian sebagai seorang anak, sebagai seorang mahasiswa, seorang
anggota organisasi de el el. Karena semua hal di dunia ini akan dimintai
pertanggungjawabannya kelak.
Ketiga adalah masalah cinta. Kayaknya
ini yang paling enak buat dikulik wkwk. Tapi bingung juga gimana memulainya. Kalian
yang masih berjuang, beberapa pada tanya aku di dm atau email. Kuliah
kedokteran itu kan lama, trus nikahnya juga semakin lama dong? Aku kudu jawab
opo nek pertanyaanmu ngene ki nder? Aku juga pernah mikir gitu, sih. Trus iseng
aja aku tanya temenku, kata dia, yaudahlah... biarin hidup ini ngalir aja. Toh,
setiap jengkal kehidupan kita ini udah diatur sama Allah. Nggak mungkin Allah
tuh nyasarin kita ke jalan yang nggak bener. Semoga jawaban temenku bisa
sedikit membuat resah kalian berkurang :))
Kata meme-meme
di medsos, anak kedokteran itu banyak yang jomblo. Ada benernya juga, tapi juga
ada salahnya. Banyak yang jomblo, tapi bukan literally jomblo. Jomblonya anak
FK itu masih punya cem-ceman wkwk apa yaa istilahnya, semacam gebetan gitu.
Bahkan temenku yang di mata orang lain yang belum kenal adalah sesosok wanita
sholihah berkerudung panjang, dia juga punya someone special gitu. Dan itu
nggak cuma sekedar chatting, tapi jalan bareng doi juga. Emang bener ya, don’t
judge the book by its cover.
Ada juga kubu
yang suka pasang status pake hestekjomblosampaihalal. Aku bakal amat sangat
mengapresiasi jika kalian bener-bener menerapkan itu. Tapi sayangnya, banyak
yang nggak konsekuen dengan pernyataan itu. Suatu saat, aku diceritain sama
seorang temenku. Ada temenku yang lain, katakanlah namanya si A. Si A ini suka
chat-chatan sama seorang ikhwan yang hmm nggak usah tanya lagi gimana alimnya
dia. Suatu ketika, si A ini merasa dirinya sudah cukup sholihah dan dia
mengungkapkan kesholihahannya ke si ikhwan ini. Kata si ikhwan, “Mana ada cewek
sholihah kok chat-chatan terus sama cowok isinya becandaan mulu”. Jleb nggak
tuh? Statusnya memang jomblo, tapi kelakuan sama aja. Ayolah gaes, bersikaplah
lebih dewasa.
Karena
lingkungan kampusku memang islami, jadi banyak yang suka bikin snapgram yang
berbau agama. Pertanyaanku adalah, apakah kalian melakukan itu semua murni dari
diri kalian buat nyebarin dakwah atau biar doi yang sholihnya gak ketulungan
bisa respek sama kalian lalu kemudian kalian merasa “wah kayaknya dia mulai
ngelirik aku”? Tolong siapapun yang bisa menjawab pertanyaanku, jawablah dengan
sejujurnya.
Sampai sini aku
mulai sadar kalo tulisanku semakin nggak nyambung sama judulnya, malah banyak
curhat nggak jelas. Aku nggak menyalahkan kalian yang suka pasang status
hestekjomblosampaihalal, karena mungkin populasi laki di FK ini lebih sedikit
trus bingung juga mau ngode doi dengan apalagi. Takut dia diambil orang duluan.
Atau entah apapun alasannya. Aku juga nggak akan menyalahkan kalian yang suka
pacaran di kampus, nggak tau tempat. Galau satu, bikin susah satu kelompok.
Kalian udah gede, udah tau mana yang bener mana yang salah. Setiap pilihan
hidup kalian ya kalian sendiri yang bakal nanggung. Setidaknya, posisikan diri
kalian dimana kalian berada saat itu.
Kalo ditanya,
emangnya nggak pernah juatuh cwinta kayak gitu? Ya pernah lah. Tapi kan kita
juga punya batasan. Mana yang harus ditunjukin dan mana yang nggak perlu
ditunjukin. Sebenernya itu semua pilihan sih, wallahualam...
Closing
statement-nya, bagian terbaik dari jatuh cinta adalah “perasaan” itu sendiri.
Itu perasaanmu, kamu yang berhak ngatur. Dan aturlah perasaanmu sesuai
kapasitasnya. Semangat berjuang temen-temenku Avicenna! Kalian ke Solo untuk
belajar, bukan cuma mikir yang-yangan -_- dapet jodoh dari temen kuliah itu
bonus, bukan tujuan utama.
Komentar
Posting Komentar