MENITI UMUR 20-SEKIAN
Bismillahirrohmanirrohim...
Kerjaan setiap libur semester adalah
nge-blog. Kalo nggak ngeblog nggak tercurahkan semua keluh kesahnya hehe.
Mungkin temen-temen ada yang mengalami hal yang sama dengan apa yang mau tak
ceritain di sini. Semoga bisa saling memberikan pencerahan dan bermanfaat :))
Sekarang aku semester 4 (otw semester
5), umur udah 22. Hm, ketika temen seangkatan masih baru mau menginjak umur 20
hehe. Ngomongin umur 20, aku merasa perbedaan yang signifikan setelah umur 20
ini. Mungkin bener kata orang-orang, kalo kita udah memasuki kepala dua berarti
inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kita bakal dihadapkan pada masalah-masalah
kehidupan nyata bahkan maya pun ikut-ikutan. Nah, inilah titik dimana kita
punya kendali penuh sama kehidupan kita ke depannya. It’s your choice to operate
your life plane, Capt!
Dulu, sebelum 20, aku itu masih
sangat ambisius, apalagi masalah akademik. Nilai ujian matematika misal, harus
85 lebih. Ujian praktik harus lulus semua. Waktu terima rapor juga harus juara.
Pokoknya selama umurku masih kurang dari 20 tahun, kehidupanku itu penuh dengan
kata “harus”. Trus kalo misalnya hasilnya nggak sesuai harapan mesti langsung
merasa Allah itu nggak adil, merutuki diri sendiri kenapa bodo banget jadi
orang, nyalah-nyalahin orang lain padahal nggak salah sama sekali.
Astagfirullah, jahil betul diriku.
Tapi setelah U-20, semuanya berubah.
Otak ku ini jadi lebih bisa mikir waras. Sebagai seorang pilot yang punya
kendali penuh atas pesawat yang lagi tak naikin ini, aku mulai belajar
bijaksana dalam mengemudi pesawat kehidupanku. Belajar gimana cara biar pesawat
nggak oleng waktu ada badai, belajar gimana pesawat bisa lepas landas dengan
halus, dan lain-lain. Dan nggak lupa belajar gimana harus bertindak kalo hasil
nggak sesuai harapan dan gimana harus berjuang sesuai porsinya bukan porsi
orang lain.
Sekarang, aku bisa lebih legawa
menerima hasil dari setiap perjuanganku. Contohnya ya waktu aku ketrima di FKG,
padahal pengennya FK. Nggak ada perasaan protes sama Allah waktu itu. Yaa,
paling ada dikit tapi nggak sampai tervisualisasikan. Waktu itu merasa bangga
sama diri sendiri, kok aku bisa sehebat ini bisa menerima kenyataan yang nggak
manis. Ternyata emang kalo semua hal di kehidupan ini dijalani dengan ikhlas dan
tawakal sama Allah, nggak menuntut sama ketetapan Allah, hati tuh jadi tenang
dan nggak bergejolak. Dan kuncinya adalah selalu bersyukur. Bersyukur dengan
apapun itu yang diberikan Allah. Allah pasti ngasih yang paling baik.
Aku yang dulu selalu bertanya-tanya
kenapa aku bisa kuliah di FK swasta, jauh dari rumah, sedangkan temen-temenku
yang lain bisa kuliah di Jogja, nggak usah ngekos, tiap hari ketemu orang tua,
spp nggak mahal, bisa dapet univ yang “dipandang wow”. Sekarang alhamdulillah
bisa bersyukur. Ternyata Allah menempatkan diriku yang lemah iman ini di tempat
yang terbaik, tempat yang bikin aku selalu semangat buat memperbaiki diri terus
menerus. Allah menempatkan aku di lingkungan yang kondusif, nggak bikin aku
jadi salah pergaulan. Mungkin juga Allah sengaja menempatkanku di Solo karena
aku bakal ketemu jodohku di sini wkwk wallahualam. Dan masih ada banyak hal
yang bisa disyukuri kalo kita bisa husnudzon sama Allah.
Dulu, yang di pikiran itu isinya
duniawi semua. Trus, pas masuk U-20 aku kejungkir, dijungkirin kehidupan lebih
tepatnya. Dulu otakku masih di dengkul, alhamdulillah setelah jungkir jadi
menetap di kepala. Trus jadi bisa mikir, hidup tuh nggak cuma masalah hubungan
kita dengan orang lain, tapi juga hubungan kita dengan pencipta kita. Setinggi apapun
seorang pilot sekolah penerbangan, setinggi apapun jabatan seorang kapten
pesawat, ingat, Allah lah yang berkuasa atas semua hal di semesta ini. Allah bisa dengan mudahnya bikin badai trus
jatuhin pesawat kita. Allah bisa dengan gampangnya bikin cuaca jadi jelek dan
terpaksa kita harus menunda penerbangan. Hidup itu nggak melulu tentang
seberapa luas kita bisa menakhlukan dunia, tapi tentang ada atau enggaknya
kehadiran Allah dalam setiap proses menuju itu semua.
Berjuang itu nggak cuma belajar di
depan buku, tapi juga sholat, puasa, ngaji, zakat, daaann amalan-amalan baik
lainnya. Selalu libatkan Allah dalam setiap detik hidup kita. Selalu ingat
Allah dalam setiap perjuangan kita. Serahkan semua kehidupan kita sama Allah
karena Allah Mahatahu. Hadirkan Allah di hati. Cintai Allah. Maka semua hal di
dunia ini bisa menjadi milik kita. Ketidakmungkinan itu bisa disemogakan
sehingga bisa jadi kemungkinan kalo ada Allah. Termasuk doi wkwk.
Selamat terbang, Capt! Bijaksanalah 🙋
Komentar
Posting Komentar