People Come and Go Just Like The Wind Blows
Bismillahirrohmanirrohim,
Blog ini
diawali dengan sebuah quotes yang entah dari siapa, tapi membekas banget di
kepala, yaitu “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.” Semakin
dewasa, semakin besar kita bertumbuh dan berkembang, semakin sedikit yang
membersamai proses itu. Nggak semua yang muncul di awal akan bertahan selamanya
sampai akhir.
Dulu aku nggak
menemukan alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Tapi setelah baca quotes
itu, emang ada benernya. Setiap periode waktu yang kita lewati akan ketemu sama
orang-orang yang emang sebelumnya udah nemenin atau bahkan ketemu orang-orang
baru. Dan seberapa lama orang-orang tersebut nemenin kita sejak awal nggak bisa
dijadikan patokan sampai kapan mereka akan terus bersama kita. Kita, sebagai
manusia, nggak pernah tau siapa yang akan pergi, siapa yang akan tinggal.
Sebenernya hal
ini nggak bisa dijadiin pembenaran juga sih. Maksudnya, bukan berarti
orang-orang yang memilih pergi adalah orang-orang yang jahat dan nggak punya
perasaan. Poinnya enggak di situ. Setiap orang punya kehidupannya
sendiri-sendiri. Sibuk dengan ambisi masing-masing. Dan menurutku itu nggak
salah. Setiap orang juga punya pilihan dan berhak memilih hal mana yang menurut
mereka menjadi pilihan terbaik. Kita nggak bisa menyalahkan keputusan orang
lain untuk pergi.
Gimana kalo
keadaannya dibalik? Kita menjadi orang yang meninggalkan kehidupan orang lain.
Saat orang itu butuh rangkulan, butuh tempat untuk berbagi kesedihan dan
kesenangan, saat orang itu lagi down, atau banyak kemungkinan lain. Gimana
seandainya kita adalah tokoh ‘antagonis’ dalam cerita kehidupan orang lain?
Gimana kalo ternyata kita adalah orang yang jahat di pandangan orang lain?
Kita bisa aja
berdalih kalo itu bukan salah kita. Mencari pembenaran yang nggak akan
memberatkan kita. Berusaha membela diri dengan berbagai alasan. Toh, memang
kita punya tujuan sendiri yang harus dikejar.
Ada satu lagi quotes yang cukup mewakili perasaan para generasi yang saat ini sedang berada di umur 20-an, “People come and go just like the wind blows”. Memang orang-orang di sekeliling kita ibarat seperti angin. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Angin itu nggak bisa dipegang untuk menguatkan. Nggak bisa cosplay jadi bahu doi buat bersandar kala penat. Nggak bisa dilihat untuk sekedar jadi adem-adem mata. Kurang lebih analoginya seperti itu.
Siapa yang
bisa membuat diri kita kuat? Tangguh? Bisa suffer menghadapi kerasnya dunia? Jawabannya
cuma satu, diri kita sendiri. Nggak ada yang benar-benar abadi, kecuali
Sang Pencipta. Nggak ada yang benar-benar di samping kita saat kita senang atau
sedih. Iya gak?
Pasti ada hikmah
yang hadir di setiap lalu lalang people coming to our life. PASTI. Sebagai
pembelajaran juga, hargai setiap orang yang sudah mau datang di kehidupan kita.
Entah itu yang merepotkan atau yang membantu mengurangi kerepotan. Bisa jadi
justru orang-orang yang nyebelin itu yang akan membantu kita di masa depan. Bisa
jadi orang-orang yang memuji kita menjadi orang yang paling menyakiti kita
nantinya.
Allah nggak
mungkin mempertemukan kita dengan seseorang itu tanpa sebab. Pinter-pinternya
kita aja buat belajar dari orang-orang yang singgah. Ambil banyak kebaikan dari
orang-orang tersebut. Dan bersyukurlah jika dipertemukan dengan orang-orang
yang selalu bikin ngelus dada karena kita bisa belajar dari pengalaman itu
untuk tidak melakukan apa yang mereka lakukan atau untuk tidak mengulangi
kesalahan yang sama.
Jangan
khawatir nggak punya temen, nggak punya tempat berbagi, nggak punya seseorang
atau sesuatu yang menguatkan saat gundah. Pasti ada. Siapapun itu, asal kita
bisa membuka mata, hati, dan pikiran selapang mungkin. Allah akan selalu ada
menjadi obat terbaik bagi umat-Nya. Percaya itu. Dan, tetap hargai setiap orang
yang telah Allah hadirkan di kehidupan kita karena di balik itu semua pasti ada
yang indah-indahnya :)
It's all about MASA.

Komentar
Posting Komentar